Treat My Taste : Sate Mak Syukur Padang Panjang

Karena letaknya di pelintasan jalan raya Padang-Bukittinggi, tiap kali pulang kampung saya pasti melewati kedai sate Mak Syukur. Dari arah Padang letaknya tak  jauh setelah air terjun Lembah Anai-Padang Panjang. Beratap bergonjong seperti kebanyakan bangunan di Minangkabau, ada tulisan mencolok di dinding maupun neon sign di tepi jalan sebagai penanda bahwa kita telah tiba di restoran sate yang banyak di bahas orang dalam berbagai media.

Putuskan sendiri mau berapa tusuk

Karena ada yang bela-belain datang dari jauh ke tempat ini masak saya yang jelas-jelas sudah lewat di depan pintunya tidak mampir sih? Maka tiap kali turun dari pesawat pikiran saya selalu tertuju pada Sate Mak Syukur (SMS). Padahal biasanya ibu wanti-wanti agar langsung saja pulang sebab beliau sudah menyediakan masakan spesial di rumah. Tapi sekali lagi, masa iya sih gak mampir, SMS gitu lho. Maka dengan mengatakan bahwa kami akan seminggu di rumah, jadi masih banyak waktu untuk menikmati masakan ibu yang biasanya ibu jawab ” Auuuk ah…”

Ini ketupat dan bumbu satenya

Masuk ke dalam kedai biasa-biasa saja, seperti kebanyakan resto padang, bermeja kayu dan berkursi kayu. Yang tertata diatas meja juga biasa-biasa saja, keripik singkong balado dan kerupuk kulit. Tapi memang, orang tidak mencari suasana saat berkunjung kesini. Orang mencari sate padang yang terbuat dari daging dan jeroan sapi, dihanyutkan ketenggorakan lewat saus kental berwarna kuning. Tapi kalaupun ada yang lebih spesial, masuk kesini menimbulkan perasaan sedikit keren. Bahwa kita ikut menikmati sebuah produk budaya pop hasil apresiasi teman-teman, dibahas di blog, mailing list, dibicarakan di TV dan di radio. Orang selalu suka mengidentifikasikan diri mereka sebagai bagian dari sebuah gaya hidup.

Ini tempat pembakaran satenya

Selama tahun 2010-2011  tiga kali saya berkunjung ke SMS. Hanya tiap kali  heran pada  kok lebih suka menemukan jawaban sendiri ketimbang bertanya. Masalahnya begini: Coba baca di blog2 lain bahwa SMS tiap kali sajikan berisi daging 7-10 tusuk/porsi. Lah tiap saya datang cuma ketupatnya saja tuh yang diporsi sementara dagingnya disajikan melalui nampan terpisah yang bebas diambil suka-suka. Jawaban sendiri: Karena tiap datang saya dengan rombongan sirkus maka yang menyajikan berpikir gak perlu dibagi-bagi lah, kalau kurang tinggal nambah. Gitu aja kok repot

Lepat bugis, kue tradisional minang yang ada di meja SMS

Salam,

Bookmark the permalink.

8 Comments

  1. Pingback: Sate Padang Panjang Mak Syukur: Satu Lagi Kuliner Sate Padang yang Khas dari Padang - Travelmate Kamu!

  2. Sate Mak Sukur Padang Panjang ini memang terkenal sekali …
    beruntung saya pernah merasakannya …

    Di Jakarta sebetulnya ada yang rasanya mirip dengan Sate ini …
    Yaitu di Pasar Mayestik … dan juga satu lagi yang di perempatan Pasar Jumát
    Aaaaahhh … jadi pengen makan sate padang nih …

    Salam saya Bu Evi

    • SMS sepertinya emang belum punya lawan dalam soal rasa Pak. Even sama-sama menyandang nama SMS, yg di jakarta rasanya agak sedikit di bawah deh. Mungkin karena racikan bumbu belum standar, beda orang beda tangan yg berakhir di beda rasa kali ya. Mudah2an sate di Mayestik bisa ngobatin kangen dengan SMS yg disantap ditempat aslinya.

      Salam saya kembali om Trainer 🙂

  3. Whuuaaa… aku pernah makan di Mak Syukur. Dari arah Padang setelah Air terjun Anai sebelah kiri.
    Sepiring aku habisin, kirain makan ga makan harga satu porsi, ternyata pas mau bayar dihitung per batang sate aja 😀
    Ada juga Saiyo & Sakato, apakah masih?

    • Wah pernah ke kampungku. Betul Mas Yopie, makan disini tidak perporsi tapi berapa tusuk. Kalau diporsi-porsi kayaknya membatasi rejeki mereka deh sebab satenya yg gurih itu enak sekali hehehe..Saiyo dan Sakato masih di tempatnya..

  4. Awak lubuak aluang-padang pariaman ni….:D

  5. Oh kemarin awak panggil Mas Tomy pulo hehehe..
    Kampuang awak di Magek – Pakan Kamih, Tomy dimana?
    Menurut saya sih yang pakem padang panjang ini emang lebih enak dari yg pakem pariaman yang kuahnya merah tersebut..

  6. Uniii kironyo, jadi malu kemaren manggil mba Evi…:p emang kampungnya dimana si ni?
    Iya ni, satu ciri khas lain SMS adalah kuahnya yang kuning (benar2 kuning lho) dan ga cepat encer. Kalau sate2 lain cenderung kemerahan dan cepat encer. Setidaknya sejauh yang saya temukan.

Leave a Reply