Oncom

Oncom Segar

Bagi sebagian orang oncom adalah makanan nikmat. Dimasak dengan cara digoreng tepung, ditumis dengan lenca, diberi cabe rawit dan daun bawang. Atau bisa juga dibuat sambel oncom  untuk menikmati aneka sayuran. Saya pun terbiasa menemukan  pepes oncom di Rumah Makan Sunda. Tutug oncom termasuk masakan terkenal dari asal Tasik Malaya. Oncon jadi keripik jadi buah tangan populer saat kita bepergian.

Tapi saya dan oncom kurang punya hubungan  “greget”.  Mau-mau dan enggak-enggak. Ada sesuatu dari Oncom yang membuat saya tidak pernah benar-benar jatuh cinta padanya. Berbeda dengan tempe yang membangkitkan rasa gurih saat dikunyah, tekstur oncom yang kenyal dan kopong membuat sengau syaraf-syaraf ujung lidah. Sensasi yang aneh!

Ketidak sukaan ini mungkin berhubungan dengan ibu yang juga tidak menyukai makanan yang terbuat dari ampas kedele ini. Walau bahan baku mudah didapat, harga lebih murah dari tempe, seingatku ibu tidak pernah memasak oncom. Mungkin ia berpendapat makanan yang terbuat dari ampas sudah kehilangan nilai gizi. Ampas seharusnya dijadikan pupuk atau untuk makanan hewan. Atau susunan syaraf lidah ibu  sama  dengan saya? Konstruskinya tak begitu cocok menerima  serbuan rasa dari bau langu yang keluar dari Sang Oncom.

Begitu lah yang pasti pasti, saya tak sempat berakrab dengan oncom dari rumah. Pertemuan paling dekat kalau mampir ke warteg atau rumah makan sunda. Nah di kedua tempat ini  bahan makanan hasil fermentasi dari beberapa jenis kapang ini punya tempat istimewa.

Tempe Goreng Saya Suka

Tempe Goreng Saya Suka

Ketidak sukaan saya pada oncom mungkin juga berkar dari sejarah masa kanak-kanak. Begini ceritanya:

Saat keluarga saya  tinggal di Kramat Sentiong ( ini juga kampung masa kecilnya Dorce Gamalama) sering belanja ke Pasar Gaplok. Pasar itu bahkan sampai tumpah ke  rel kereta api yang hendak melintas Stasiun Pasar Senen atau Poncol. Nah kalau kereta mau lewat mereka akan membunyikan pluit. Maka para pedagang bergegas mengemasi barang dagangan untuk kemudian di gelar lagi bila kereta sudah lewat.

Di Pasar Gaplok berdiri lah sebuah kincir angin bertuliskan COMET di putarannya. Tak jauh dari kakinya berdiri beberapa gubuk reot tempat pembuatan toge. Di sebelah terdapat pabrik pengolahan tahu yang sama reyotnya. Di pabrik toge ini  lah ibu sering membeli kacang hijau gagal tumbuh jadi toge yang akan diolah jadi bahan sarapan kami. Bubur  kacang hijau seperti ini cuma samar-samar rasa kacang hijaunya.

Karena sering jadi utusan buyer  saya sering melihat bagaimana pabrik tahu beroperasi disebelahnya. Gelap, becek, panas, bau dengan karyawan lelaki yang semua bertelanjang dada. Menengok ke samping  pabrik, bertumpuk-tumpuk bungkil kulit ari kedele. Sarinya sudah diperas sari untuk tahu. Beberapa lagi  terletak begitu saja dalam bak, ember dan  melata di atas tanah. Lalat beterbangan berpesta pora, mengerubungi kapang atau cenndawan berwarna orange (oranye). Saya pikir sebagian dari onggokan sampah itu sudah bisa disebut oncom.

Saya pikir itu sampah seperti itu mestinya dibuang. Tapi orang mengatakan itu bahan baku untuk membuat oncom…

Salam,

Bookmark the permalink.

13 Comments

  1. Saya kenal oncom baru di Jakarta. Pertama kali makan langsung suka (waktu itu ditumis dengan kangkung). 😀 Tapi saya jarang masak juga sih. Kalau pepes oncom malah saya baru dengar nih. Hmmm, kapan-kapan mesti coba kayaknya ya. Salam kenal juga Mbak 🙂

  2. Saya juga pernah tinggal di suatu daerah yang ada pabrik tahunya, kalau saya lewat di dekat tempat tersbut pasti tercium bau asam. Walaupun dari kecil saya tidak terbiasa makan oncom, tapi beberapa tahun yang lalu saya sempat suka dengan gorengan oncom. Kalau sekarang saya hanya makan oncom yang sudah di campur dengan sayuran lain seperti genjer, lencak dll.

  3. Ni Made Sri Andani

    Dulu saya juga tidak bisa makan oncom, Mbak Evi. Pertama kali mencoba makan, saya malah muntah. Entahlah,mungkin karena makanan itu asing bagi saya. Di kampung saya tidak ada oncom. Baru tahu oncom setelah di Jakarta.

    Namun setelah lama tinggal di Jakarta, saya coba lagi dan coba lagi. Lama-lama lumayan juga saya bisa menikmatinya. Tapi sekarang membaca cerita Mbak Evi tentang kapang oranye yang tumbuh di sisa-sisa sampah kedelai…. hik hik.. Benar juga. Saya juga pernah melihat pemandangan yang sama. Jadi mikir lagi ini, kalau mau makan oncom….

    • Hahaha..Iya Mb Dani, oncom is a mess! Saya sih belum hidup secara organik tapi ada satu prinsip yg perlu kita tiru dari mereka penganut makanan organis adalah, hendaknya kita tahu sumber makanan yang dikonsumsi. Hal-hal yg beginian emang masih langka di Indonesia. Gak bisa disalahkan juga sih sebab kebanyakan kita masih bergulat di pemenuhan kebutuhan pokok. Bisa makan saja sudah syukur boro-boro memperhatikan cara membuat makanan itu gimana dan bahan apa saja yg dikandungnya. Semoga dengan meningkatnya taraf pendidikan, taraf taraf ekonomi, pengolahan makanan semakin memenuhi standar mutu kesehatan. Saya tuh kalau nonton acara investigasi yg dilakukan sebuah TV swasta termehek-mehek melihat bagaimana para pedagang makanan kecil menyiapkan produk yg akan mereka jual. Malah pernah amat marah melihat kue serabi yg dikasih wantex dan dijual di depan sekolah SD..Gila benar! Mirisnya ibu pedagang itu gak tahu bahwa perbuatannya berbahaya bagi kesehatan manusia. Itulah Mbak Dani..pendidikan..pendidikan…

  4. Entah bagaimana pula cara pembuatan tempe di daerah saya, hehe…
    Saya hanya pernah mencicipi olahan oncom dalam combro saja, dan saya lumayan suka rasanya 🙂

  5. meski nggak terlalu doyan, sesekali nyari juga oncom yang dibuat ulukuteuk leunca

  6. Mungkin kalo sekarang pabrik / para pembuat Oncom sudah lebih memperhatikan kebersihan lingkungan serta alat-alat yang digunakan ya 🙂
    Mudah-mudahan juga lebih diperhatikan kebersihan & keamanan bagi kesehatan dari bahan baku yang dipakai.

    BTW, Gambar oncom di postingan ini seger banget lho Mba’ evi … hmm Oncom Lezat he he

    • Saya harap juga begitu Mas Ariko, disamping menghindarkan keracunan, makanan murah pun harus punya syarat higienis. Gambarnya emang bagus secara itu oncom baru keluar dari tempat fermentasinya, dipotong langsung di pajang 🙂

  7. Lha sekarang malah bikin geli kalay tahu asalnya oncom..

    • Lha mudah2an tulisan ini gak membuat citra oncom jadi jatuh Mas Giewahyudi..Bisa diomelin orang sunda saya nanti.Tapi pastinya tidak semua oncom dibuat dengan cara yg pernah saya lihat di masa lalu. Salam ya Mas 🙂

Leave a Reply