Membuat yang Biasa jadi Luar Biasa

Pak Satpam yang ramah menyambut di gerbang

Saat blog walking kemarin sangat terkesan dengan sebuah artikel tentang kreativitas yang ditulis oleh Ariko (&) Sofia  , katanya : “Menulis, meskipun hanya selama lima menit adalah lebih baik daripada tidak menulis sama sekali “ dan ” Mengambil beberapa foto dari kebun atau halaman rumah Anda adalah lebih baik dari pada membiarkan kartu memori kamera anda kosong “.

Benar banget, mengasah kreativitas tak boleh menunggu, harus dilakukan setiap saat dan setiap hari. Sambil menyelam minum air itu menghemat waktu. Maka pagi-pagi sebelum mengantar si bungsu sekolah bergegas aku bawa pocket camera. Walau situasinya sama saja sejak lima tahun lalu (si sulung juga sekolah ditempat yang sama), gak jelas benar apa yang akan difoto nanti. Tapi ketimbang membiarkan memori kamera nganggur kan lebih baik diisi.

Analogi kuno dari bangsa Indonesia terhadap kerja otak adalah bahwa pisau yang jarang dipakai akan tumpul. Saat difungsikan banyak yang menarik dari hasil kerja otak kanan kita.Kecuali mengikuti aba-aba, saking biasanya, lima tahun mondar-mandir di gerbang sekolah ini saya sudah tak memperhatikan lagi gerak hormat dan senyum dari pak satpam yang menyambut kami tiap pagi. Toh tiap mobil yang muncul di gerbang mendapat perlakukan yang sama, apa istimewanya? Tapi coba pikirkan jika dia harus mengangkat tangan untuk beberapa ratus mobil yang bolak-balik  tiap antar-jemput jam sekolah? Bila itu tak menjadi sesuatu banget untuk diperhatikan, mestinya banyak hal penting juga yang telah aku lewatkan dalam hidup ini.

Setelah bercengkerama beberapa saat dengan bentuk kotak-kotak dan warna cat mencolok dari gedung baru yang dibangun Binus School Serpong untuk level SD dan SMP, saya kasih ide ke suami pulangnya mengambil rute beda. Lewat belakang, masuk ke Regency Villa Melati. Walau jalannya sempit petualangan saya pagi ini terbayar. Di depan sekolah Montesori bertemu dengan sejumlah pedagang makanan. Bila benar bahwa murid-murid sekolah itu jajan di tempat ini, mereka beruntung. Ditengah kegalauan kita dengan semakin beragamnya jajanan anak sekolah yang mengandung bahan-bahan berbaya seperti pengawet dan pewarna sintetis, saya perhatikan makanan yang dijual disini relatif aman. Kalaupun yang jajan bukan mereka tetap saja menarik dengan kehadiran pecel, bubur sumsum2, bubur kacang hijau,susu kedelai,  beragam kue Indonesia dan lain-lain.

Para pedagang disini mungkin disebut street hawker dan mungkin karena sebutan ini mereka ramah dan selalu punya informasi yang siap dibagi kepada pembeli. Dari salah seorang ibu, saya jadi tahu situasi kemanan dan harga rata-rata tanah sekitar kawasan itu.

Ah sebuah pagi yang menarik!

Bookmark the permalink.

2 Comments

  1. Iya Mbak, otak kita sering melipat hal-hal sepele menjadi tak perlu. Tujuannya mungkin baik, melindungi agar kita tak terlalu disibukan oleh hal remeh temeh sehingga kita mampu membuat skala prioritas. Namun saking seringnya melipat, banyak hal-hal yang belum sempat diberi makna akhirnya terkubur begitu saja. Mungkin dengan menaikan level kreativitas akhirnya akan berujung pada kesadaran ya Mbak. Semoga. Thanks telah memberi percikannya 🙂

  2. Sharing yang Keren,

    [ * Ikut belajar dari Postingan ini ]
    Ini sebuah kegiatan ‘Kreatif’ yang bukan hanya memberikan sebuah ‘Pagi Yang Menarik’ untuk Mba Evi. Lebih dari itu, Episode sepotong pagi dalam postingan ini menyadarkan bahwa begitu banyak hal yang (dianggap) sepele ternyata ‘Sesuatu Banget’ dan kita melewatkan moment-moment tersebut berlalu begitu saja meninggalkan keagungan dan keindahan nilainya luput dari tangkapan kita.

    Dan ternyata hal Kreatif meski sekedar menambahkan pernak-pernik baru yang sederhana diatas pola rutinitas, dapat menambahkan kesegaran sekaligus jadi pengalaman yang bernilai.

    Thanks 4 sharing

Leave a Reply