Rujak Cingur Tanpa Cingur

Rujak Cingur

Untuk waktu yang singkat aku pernah bersekolah di SMPN 5 Semarang. Dari tempat tinggal Budeku di Candi Baru menuju jalan Sultan Agung dimana sekolah berada, ada jalan pintas dimana setiap harinya aku melewati sebuah warung kecil yang menjual rujak cingur. Sangat ingat pada mbok penjualnya yang ‘njawani’ banget penampilannya. Mengunyah sirih, berkonde, berkebaya lurik, berkain batik lengkap dengan stagen senada dengan warna bibirnya yang merah karena sirih.

Waktu itu tidak begitu ngeh apa yang disebut rujak cingur. Karena sering ditegur dengan ramah dan ada tulisan besar “Rujak Cingur” dipintunya, suatu hari aku tak bisa menahan rasa ingin tahu. Maka pulang sekolah mampirlah aku di warung itu.

Setelah simbok meyakinkan diri bahwa aku sanggup membayar, tak lama terhidang sepiring besar irisan macam-macam buah bergelimang saus kental kehitaman. Begitu pekat bumbunya sehingga sulit  mengetahui irisan apa saja yang telah dimasukan ke piring. Tapi samar-samar, dari belakang otakku, malaikat penjagaku mengatakan bahwa cingur nama lain dari hidung sapi. Hidung sapi atau bibir sapi sihh, tanyaku pada diri sendiri  sambil mengaduk isi piring dan mencari sesuatu. Potongan pertama yang masuk ke mulut kebetulan kenyal-kenyal. Itu pasti bukan bengkoang, atau ketimun maupun tahu. Itu pasti sesuatu yang pernah kulihat mengalirkan dan meleleh lendir putih bau anyir yang sering aku lihat di kandang sapi.  Dan sesuatu bergerak dalam perutku.

Bertahun-tahun kemudian, hidangan yang menggunakan petis udang dan kacang sebagai sausnya yang menurut orang-orang rasanya enak dan gurih tidak pernah benar-benar berhasil melenyapkan trauma rujak cingur pertamaku. Setidaknya aku tidak pernah secara khusus memesan hidangan ini jika kebetulan berjumpa dengannya. Paling-paling mencoba seiris atau dua iris dari mereka yang mencobanya.

Nah kemarin dalam suatu bazzar kembali bertemu dengan rujak cingur. Dari penampilan bumbu kacanya yang tak begitu gelap, cobeknya yang spektakuler, pisang mudanya yang menggoda, aku memberanikan diri pesan seporsi. Tapi wanti-wanti agar tak usah di kasih cingur. Si Mbak agak heran sih, tapi sudah lah, pembeli kan raja. Walau rujak cingur sudah terkenal seantero nusantara, ternyata oh ternyata tetap saja makanan khas orang Surabaya ini  asing di lidahku 🙂

Bookmark the permalink.

Leave a Reply