Pertengkaran Suami-Istri: Robek-Robek Bulu Ayam

Orang tua mengatakan pertengkaran adalah bumbu dalam perkawinan. Rasanya setuju sebab saya punya keyakinan tak satupun perkawinan yang terbina berbilang tahun akan imun darinya. Kalaupun ada mestinya itu bukan perkawinan yang sehat. Bagaimanapun penyatuan dua  perangai yang datang dari keluarga berbeda pasti punya cara berbeda dalam menyikapi sesuatu. Mereka tidak akan selalu tune in.

Namun ada perbedaan mendasar antara pertengkaranyang terjadi sebagai bumbu perkawinan dengan pertengkaran yang lahir dari ketidak puasan atas pasangan. Pertengkaran pertama biasanya berakhir bahagia dan mengeratkan hubungan sementara pertengkaran kedua bersisa luka hati dan tak jarang menimbulkan dendam.

Hubungan kita dengan sesama menuntut sejumlah aturan. Salah satu dari aturan tersebut dinamai kewajiban. Contohnya dan ini umum berlaku dalam masyarakat kita bahwa seorang suami berkewajiban menafkahi keluarga sementara istri berkewajiban mengurus anak dan semua pekerjaan yang berhubungan dengan rumah tangga.

Sayangnya ada yang mengatur kehidupan kita dan Dia punya cara sendiri dimana  Rules of the Games-Nya tidak selalu berbanding lurus  dengan harapan ideal manusia. Oleh satu dan lain hal tidak semua dari kita sanggup memenuhi kewajiban-kewajiban yang dibuat oleh masyarakat tersebut. Itu belum seberapa. Yang paling celaka adalah ketika salah satu atau dua orang yang terlibat dalam suatu hubungan saling menuntut kewajiban satu sama lain. Ketika satu orang menganggap yang lain tak memenuhi kewajiban, tentu saja akan menerima reaksi negatif. Timbulah  pertengkaran. Malah dalam rangka self-defense yang dituntut akan menuntut balik, kalau perlu ditambahi dengan mengorek  luka lama yang membuat situasi semakin runyam. Akibatnya seperti terasi dipotong dua, dimanapun keratannya dicium aromanya sama-sama amis.

Menuntut adalah pekerjaan paling mudah di dunia. Karena semua orang mampu melakukannya maka rewardnya juga paling murah, kekecewaan. Tapi tahu kah, kadang yang namanya kewajiban tak jarang datang dari persepsi kita sendiri. Kalau aku begini, kewajibanmu ya harus begitu. Aku melihat orang lain melakukannya seharusnya kamu juga begitu. Dan sejak ribuan tahun, tuntutan dan kewajiban terhadap orang lain menurut versi kita inilah yang membuat bumi tak pernah kekurangan air mata. Kanker ganas hubungan ini telah membuat anak-anak terlantar dan jutaan orang tua merasa hampa. Saya pikir tidak seorangpun di dunia mau dituntut-tuntut agar menunaikan kewajiban, terutama kewajiban yang datang dari sudut pandang dan  selera kita sendiri.

Bila perahu sudah sama-sama di air dan kayuh sudah sama-sama ditangan,  tak perlu lah saling bergaduh dengan menuntut tanggung jawab yang dirasa belum terpenuhi. Tujuan perkawinan itu merekatkan cinta, menyatukan kekuatan dan saling melengkapi. Jika merasa pasangan belum menunaikan kewajiban coba diskusikan bersama mengapa itu bisa terjadi. Duduklah bersitenang bagaimana keduanya dapat saling membantu dalam menutupi ketimpangan masing-masing dan memberdayakan kekuatan yang ada. Jadi kayuh lah perahumu dengan pengertian agar kecibak kasih sayang menghantarmu sampai diseberang.

Selamat meneruskan pelayaran sambil robek-robek bulu ayam. Seiring waktu robekan itu akan menyatu kembali.

Photo

Bookmark the permalink.

Leave a Reply