Pecel = Pical

Pecel Banyumas

Tatkala isi permukaan bumi nusantara yang hijau dipindah keatas  piring, salah satunya disebut pecel. Tak jelas benar oleh saya apakah pecel sudah ada di jaman Majapahit. Jika belum tak asumsikan saja bahwa aneka sayuran rebus dengan dresssing bumbu kacang ini diadobsi oleh nenek moyang kita dari salad, menu Belanda yang dressingnya menggunakan Mayones. Yang menarik, di Jawa ternyata pecel punya banyak pakem. Yang amat terkenal adalah pecel Madiun lalu disusul pecel Banyusmas seperti yang saya foto diatas. Yang membedakannya dengan pecel Madiun, pecel Banyumas menggunakan rebusan bunga kecombrang dan lamtoro–petai cina ( gak tampak disini) sementara kontain lain hampir sama. Pecel ini dimakan dengan nasi.

Pecel versi orang Minang (Pical Sikai)- Bukittinggi

Orang Minang juga kenal pecel lho, tapi kami menyebutnya Pical. Berbeda dengan pecel Jawa, picalnya orang Padang tak begitu hijau. Menggunakan sayur juga sih tapi cuma irisan daun kol, daun singkong dan toge. Kuah kacangnya juga tidak begitu manis..Lihat cabenya yang menonjol. Saya pikir ini pasti berkaitan dengan pola makan orang Minang yang tak begitu banyak variasi sayur hijaunya.Sebab yang masuk kategori lauk disana daging-dagingan dan tempe atau tahu sebagai menu tambahan. Makanya pical tidak disantap dengan nasi tapi dengan ketupat dan dianggap sebagai makanan rekreasi. Jadi jangan aneh kalau ada kerabat saya yang belum merasa habis makan walau baru saja menyantap sepiring pical Sikai-Bukittinggi. Seab arti makan bagi dia adalah setelah menyantap sepiring nasi berikut lauknya 🙂

–Evi

Bookmark the permalink.

Leave a Reply