Rendang Sebagai Penanda Lapisan Sosial di Minangkabau

Rendang yang baru saja mendidih

Pada suku Minangkabau yang sebagian besar menghuni wilayah Sumatera Barat, rendang bukan sekedar hidangan. Dalam suku yang menarik garis keturunan melalui ibu (matrilineal) ini, rendang diletakan sebagai materi penting dalam semua ritual sosial. Menyambut kedatangan ramadhan, lebaran maupun hari raya haji, rendang mengambil tempat utama sebagai hidangan wajib yang perlu diadakan. Begitu pula dalam setiap pesta (baralek) adat, entah itu batagak penghulu (upacara mengangkat datuk baru), pesta pernikhan dan khatam ngaji, rendang diletakan sebagai kapalo jamba (kepala hidangan).

Jadi gak aneh bila di Minangkabau, rendang juga dipakai sebagai ukuran strata sosial seseorang.

Saya sekolah sampai kelas 3 SD di kampung. Tiap tahun sekolah membuat acara perpisahan murid-murid kelas enam dengan puncak acara makan bersama. Untuk keperluan itu semua anak diwajibkan membawa makanan dari rumah. Makanan berarti nasi bungkus. Jadi pada hari yang ditentukan kami semua membawa nasi yang dibungkus daun pisang, mengikuti semua acara sambil sambil tak sabaran menunggu kedatangan waktu makan bersamanya.Begitu tanda makan tiba, terdengarlah geseran kursi dan bangku dan tak lama kemudian berhamburanlah aroma sedap masakan padang ke seluruh penjuru ruang kelas yang telah disulap menjadi aula dengan membuka sekat dinding pembatas 🙂 Dan saya yakinkan Anda bahwa tidak ada bunyi sendok dan garpu saat itu sebab semua orang makan menggunakan tangan.

Rendang yg sudah masak tapi belum hitam

Nah anak-anak yang nasi bungkusnya berisi rendang, dengan suka rela membuka bungkusan lebar-lebar agar terlihat oleh semua orang bahwa pemakan nasinya istimewa. Sementara yang cuma berisi ikan asin (pasti balado) tidak membuka semua lipatan daun pisang agar apapun isi yang terletak ditengah-tengah nasi mereka tidak terintip oleh mata-mata ingin tahu.Mereka makannya juga ngumpet-ngumpet.

Begitulah, sedari kecil anak Minangkabau (terutama baheula) telah belajar tentang lapisan sosial melalui rendang. Untuk memastikan tingkat kesejahteran sebuah keluarga, rendang menjelang hari raya sebuah indikator sangat bagus. Saya juga ingat bagaimana sedihnya kalau menjelang lebaran dari dapur tetangga  tercium bau harum dari rendang yang baru saja mendidih, sementara dari dapur kami asap saja yang bergantang-gantang.Dan merasa amat bahagia dan kaya bila akhirnya bau tersebut keluar juga dari dapur kami walau menjelang detik-detik terakhir pada malam takbiran.

Apakah Anda pernah merasa geli kala membaca status Facebook atau Twitter teman-teman yang memberitakan apa yang mereka sedang makan? Kurang lebih bunyi status seperti ini : “Menikmati buntut goreng dengan hubby”, ” Rib eye steak with mushroom and potato di Senci….Hmm..Yummy…”

Nah di jaman saya kecil, ajang narsisme di lakukan di tempat bermain. Sore-sore atau menjelang magrib saat semua anak-anak berkumpul ada yang menyodorkan tangannya untuk dicium. Tujuannya kita disuruh menebak tadi mereka makan dengan apa..Ya…Pasti dengan rendang lah…sebab tidak akan ada yg akan menyorongkan tangan kalau lauk yang baru saja mereka nikmati cuma tumis kangkung dengan telor dadar atau ikan asin…Apa lagi garam..tak meninggalkan jejak sekalipun tangan tersebut tak dicuci selesai makan..

Bookmark the permalink.

One Comment

  1. this is really rendang Padang,i like to eat,very beautiful photo,can you give me recepi sweet martabak please

Leave a Reply