Kramat Sentiong Kampung Pertamaku di Jakarta

Mulut Jalan Kramat Pulo Gundul

Selesai urusan di Cempaka Baru kemarin, aku minta suami membelokan mobil ke arah Kramat Sentiong. Sejak kelas tiga SD sampai tamat SMP, keluarga kami jadi bagian dari tempat ini. Sebagai bagian dari wilayah Ibu Kota RI tampaknya penampilan Kramat Sentiong tetap pahit. Jalan sempit, rumah berhimpitan, penduduk padat dan air kali  berwarna hitam pekat. Namun aku menikmati masa kanak-kanak yang lumayan indah disini.Jadi berkunjung kembali kesini menonjok sedikit romantisme yang membuat mataku berkabut.

Kendaraan pribadi, oplet, motor dan orang yang berbagi tempat

Saat sampai di mulut Jalan Kramat Pulu Gundul, suami berhenti sejenak. Jalannya sempit dan kendaraan yang lewat cukup padat. Takutnya malah nanti kena macet di dalam dan susah keluar. Tapi aku  ingin masuk lebih dalam. Kalau bisa mengunjungi bekas tempat tinggal kami dulu di sebuah cerukan dalam gang kecil. Terlintas ingin bersua dengan teman-teman lama. Walau yakin bahwa kami tidak begitu saling mengenali kembali, setidaknya tahu kabar terakhir mareka sudah cukup bagiku. Sebab beberapa kali dicari di facebook, tak satupun muncul nama-nama mereka.

Sayangnya makin lama jalan ke dalam makin sempit. Berpapasan dengan kendaraan lain bikin jantung loncat-loncat biar tidak saling senggol. Aku punya ide agar dilanjutkan dengan naik ojek. Tapi mobilnya mau ditaruh dimana? Lagi pula suami memberi sedikit perspektif, apakah teman-temanku itu mau bertemu denganku secara tiba-tiba begitu? Aiiih benar juga ya! Hari gini emang jarang orang yang suka terima kejutan gak penting.

Soto Tangkar Haji Mahmud Pusat

Akhirnya kekecewaanku diselesaikan secara adat di Soto Tangkar Haji Mahmud. Yang di Tanah Tinggi merupakan warung pertama dari Soto Tangkar Pak Uban (panggilan lain dari Hj. Mahmud) sementara yg di jalan Bhayangkara-Serpong cabangnya. Warung  ini dikelola oleh adik P Uban yang kalau gak salah namanya Haji Amir ( habis warung sotonya tanpa embel-embel selain Soto Tangkar).

Siang yang terik, warung yang sempit tanpa kipas angin, rasa soto yang gurih berbaur bawang goreng, membuat kekecewaan saya langsung lenyap bersama cucuran keringat. Walaupun enak dan mangkuknya sedang saja, aku sedikit gelagapan menghabiskan semangkok jatahku. Hayaah.. dagingnya kebanyakan dan potongannya besar-besar pula!

Bookmark the permalink.

Leave a Reply