Arsitektur Rumah Tradisional Minang: Gonjong-Gonjong yang Menembus Langit

Gonjong Empat

Wajah adat Minangkabau terus berubah. Bangunan rumah bergonjong yang menjadi ciri khas suku ini pun beranjak mengikuti. Di kampung saya sekarang hampir tak ada lagi orang  membangun rumah gadang dari kayu yang penuh ukiran seperti masa lalu. Yang banyak adalah rumah batu dan beberapa diantaranya diusahakan tetap bergonjong seperti foto diatas.  Orang Minang seolah tercabik diantara masa lalu dan masa kini.Saya pikir rumah seperti ini  gambaran sempurna dari gagap budaya tersebut. Sebelah dari diri mereka larut dalam modernitas, sementara sebelah yang lain ingin mempertahankan nilai-nilai adat yang diwariskan nenek moyang mereka sejak ratusan tahun lalu.

Kantor Kerapatan Adat Nagari di Kampung saya

Bentuk runcing dari gonjong dan lengkungan yang membuat terjadinya keruncingan tersebut banyak dimaknai secara filosofi. Ada yang mengatakan bahwa atap yang mencuat langsung menusuk langit merupakan simbolisasi relijius masyarakat Minang yang dikonsepkan dalam “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”. Saya pikir ini juga simbol yang tepat untuk menggambarkan hubungan vertikal antara Allah yang disembah dengan makhluk di bawahnya. Pada ujung-ujung runcing paling atas sering dihiasi logo bulan bintang untuk mempertebal kesan tersebut.

gonjong lima

Ruko bergonjong lima

Ada pula kajian yang mengatakan bahwa bentuk lingkaran tak sempurna yang terbentuk dari lengkungan mewakili dualitas dari cosmology masyarakat minang. Antara dunia yang terlihat dengan yang tak terlihat. Antara kepercayaan agama dan adat. Kalau melihat pada filosofi adat bersandi syarak dan syarak bersandi kitabullah, saya pikir itu benar keadaannya: Menerima Islam dan Alquran sebagai kepercayaan tapi tetap mempertahankan adat nenek moyang yang menarik garis keturunan lewat ibu tak memerlukan diskusi dalam memahaminya.

Rumah gadang kayu

Yang menarik adalah, sekalipun rumah kayu seperti ini sekarang tidak lagi dibangun, hampir seluruh gedung umum seperti kantor pemerintah daerah, kantor pos, hotel dan bank-bank baik milik pemerintah maupun swasta menggunakan atap bergonjong di atasnya. Tak ketinggalan Bandara International Minangkabau yang berfungsi sebagai pintu masuk ke ranah Minang, saat mendarat atap gonjongnyanya langsung membangkitkan kesadaran kita sedang berada di mana.  Saya tidak tahu apakah penggunaan gonjong ini melalui pemaksaan lewat perda, himbauan atau sukarela, yang jelas setiap kali pulang kampung, hati saya hangat melihat gonjong dimana-mana 🙂

Salam,

http://eviindrawanto.com

Bookmark the permalink.

2 Comments

  1. Kamang Magek masuknya kabupaten Agam ya?

Leave a Reply