Nenek Saya Menyebut Procrastination sebagai Malas!

Dulu saya punya kebiasaan jelek (sekarang masih tapi sudah sedikitJ) yakni suka menunda pekerjaan. Apa saja yang bisa ditunda akan ditunda. Gak tahu bagaimana reaksi kimia otak, saya suka menunggu detik-detik terakhir yang menegangkan untuk menyelesaikannya. Padahal pekerjaan yang diselesaikan tergesa lebih banyak mudarat ketimbang manfaatnya. Apa lagi jika ada kaitanya dengan uang dan pelanggan. Pengalaman saya, procrastination (penundaan) dengan uang membawa kerugian sementara procrastination dengan pelanggan membuat mereka kecewa.  Karena sering di komplain lama-lama sadar bahwa procrastination yang disebut nenek sebagai malas itu diabad modern seperti kotoran sapi. Bau!

Mengadobsi procrastination merupakan  satu cara hidup yang sangat tidak sehat. Mereka bikin sakit jantung. Bikin stress. Dan tak jarang merusak hubungan sosial dengan kerabat, teman-teman dan orang-orang terdekat. Jadi friends, siapaun berniat melakukan transformasi dalam hidup harus mengetahui bahwa  bagaimana kita  mengulur  waktu, bagaimana kita mengaturnya dan apa yang kita lakukan sekarang dengan membuang-buang waktu, pengaruhnya  berbanding lurus dengan masa depan kita.

Berikut ada beberapa cara untuk melibas kemalasan:

  • Bagaimanapun kita tak dipanggil malas cuma satu kali mengapa merasa harus berubah. Penundaan tidak terjadi dalam semalam, alangkah logisnya untuk tahu bahwa perubahan juga tidak terjadi dalam semalam. Berubah membutuhkan waktu. Mohon kesabarannya, berusaha saja mempertahankan  fokus selama tiga sampai empat minggu. Waktu ini kita perlukan untuk memupuk kebiasaan.
  •  Mendapatkan kebiasaan atau keterampilan baru menuntut konsistensi dan alokasi energi cukup banyak. Jadi wajar-wajar sajalah. Bagi waktu seimbang antara kerja dan istirahat. Dan mulailah dari hal-hal kecil. Kalau dulu menunggu waktu  sampai matahari di titik nadir baru terjaga, sekarang awali lebih pagi. Kalau bisa usahakan bangun pada waktu  masih enak untuk jalan pagi.   Ingat semboyan ini bos: Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.
  • Karena kerja di rumah saya suka aneh-aneh. Walau sudah berhubungan dengan dunia luar, membalas email, terima telepon atau melakukan pekerjaan kantor, sampai siang saya masih dasteran dan belum mandi. Kalau tiba-tiba ada tamu baru deh terkaing-kaing lari ke kamar mandi dan menyuruh tamu menunggu. Hadeeeehh…Gak profesinal banget dah. Jangan tiru kebiasaan ini (lagi pula sekarang saya sudah insap, you see), begitu bangun dan selesai olah raga, segeralah pergi mandi. Dunia tampak jauh lebih indah bila tubuh kita  segar. Kerja juga akan tambah semangat.
  •  Beri skala prioritas pada setiap pekerjaan. Tuntaskan sesegara mungkin mereka yang berada dalam urutan paling penting, baru diurut  sampai tidak begitu penting. Mengacak pekerjaan dan  melakukan semua tugas  tanpa memberi skala cuma mengundang  stress dan kelelahan. Mengelompokan pekerjaan dalam sebuah catatan kadang  juga membantu kita untuk bangun lebih semangat di pagi hari. Karena kita tahu dan yakin bahwa everything will be okey.
  •   Bila konsisten, kebiasaan baru yang tidak mudah menunda pekerjaan ini juga membawa perbaikan pada mood. Jadi sudah saatnya bicara positif pada diri sendiri. Begitu pula setiap kali menyelesaikan tugas tepat waktu, tersenyumlah lah, even saat seorang diri. Tadi saya menjentik-jentikan jari tanda puas karena berhasil menjalankan apa yang dituliskan ini. Itu mengundang tawa Adit anak saya, “ Kenapa sih Ma, kok senang banget kayaknya?”
  •  Tampaknya tidak ada obat paling pas untuk menyingkirkan  rasa malas selain disiplin menghadapi dengan “melakukan” alias kerja. Lagian hidup ini amat singkat! Betapa cepat hari berganti jadi bulan lalu bulan berganti tahun. Tahu-tahu kita mendapati uban sudah subur di kepala.

Kalau memang mau berubah, mengapa tidak melakukannya sekarang?

Bookmark the permalink.

Leave a Reply