Keindahan Kekenian dan Miss Skak Mati

Apa yang cantik dari tumpukan apel yang besar dan bentuknya seragam ini?

Sebelumnya saya sering mengkuatirkan banyak hal. Menegangkan urat syaraf untuk hal yang kadang tidak perlu dikuatirkan. Apakah itu tentang keluarga, kerabat, teman, tetangga, omongan orang, bisnis dan juga masa depan. Tak cukup hanya itu, saya sering juga mengkuatirkan nasib dunia yang padahal menolong juga pasti tidak bisa. Akibatnya gitu deh, kaki sering serasa tak menginjak bumi, gelisah dan tak sabaran. Kalau diajak bicara, alih-alih memperhatikan, pikiran sudah loncat duluan ke masa depan. Sudah begitu pakai asumsi lagi. Dan asumsi tidak selalu benar. Jadi pasrah saja bila suami sering jengkel dan memberi  julukan sebagai si miss skak mati.

Yah kalau sedang waras sadar juga sih bahwa hidup penuh kuatir tersebut sangat tidak sehat. Tapi apa mau dikata karena dia datang sendiri. Untungnya saya punya satu keyakinan kalau sebenarnya Tuhan dan hidup ini sangat bermurah hati. Kita selalu punya  alternatif dengan cara apa untuk melaluinya. Misalnya kita memilih menjalani hidup yang penuh untuk saat ini saja seolah tiada hari esok. Menikmati setiap detiknya tanpa perlu mengawatirkan apa-apa yang belum terjadi. Yang pernah membaca buku dari Ekhart Tolle berjudul The Power of Now: A Guide to Spiritual Enlightenment pasti ngerti apa yang saya maksud. Bahwa kalau mau begitu banyak  hal yang bisa kita temukan  dari kekinian.

Dalam buku ini ada saran untuk hidup dalam kekiniam bisa diawali dengan memperhatikan dunia sekitar. Misalnya kita ingin mencari keindahan. Tidak peduli apapun yang dilakukan, kalau dicoba kita pasti menemukan sesuatu yang indah dari dunia sekitar.  Karena tugas rutin saya adalah ngantar anak sekolah, dan tugas rutin itu cenderung menjemukan, maka saya berusaha membuka mata lebar-lebar mencari keindahan di sepanjang jalan Raya Serpong  selama menuju dan pulang sekolah. Ekhart Tolle betul ternyata. Kadang mata saya tertumbuh pada bentuk jalan  yang aspalnya tampak licin dan mengkilap di pagi hari. Pada karung-karung sampah yang belum diangkat oleh dinas kebersihan Kota Tangerang Selatan. Disini ada jembatan penyeberang yang gak jadi-jadi tapi sudah di persiapkan rangka besi untuk papan reklame. Suatu pagi terlihat sinar matahari dihamburkan dari sebatang rangka besi tersebut sehingga tampak seperti pelangi yang terkoyak. Kalau saja mata saya di lengkapi lensa camera, dalam hitungan menit pasti sudah upload foto ke facebook hehehe…

Mengenai keindahan matahari pagi ini saya punya banyak koleksi cerita. Pernah terlihat menyembur dari balik bunga kembang sepatu yang tumbuh dekat koridor menjelang tempat parkir sekolah Binus. Pernah kepergok  di belakang gedung-gedung, dari pucuk pohon akasia dan bahkan dari putik bunga kangkung yang tumbuh secara tak sengaja dalam sebuah pot . Tak lupa mata juga ikut gerayangan pada pengendara motor (pengegndagra mobil susah terlihat). Tampak helem mereka yang warna-warni. Kalau perempuan saya perhatikan juga gimana kelakuan mereka berkendara. Tahu tidak, diatas motor, lelaki dan perempuan Indonesia  ternyata sama garangnya.

Begitulah! Ternyata menyadari hal-hal kecil dapat membawa pada kebahagiaan hidup bahkan untuk hari-hari paling membosankan atau rutin sekalipun. Jadi hiduplah untuk hari ini dan mari syukuri hal-hal kecil 🙂

Bookmark the permalink.

Leave a Reply