Apakah Saya Bahagia?

Kita ini adalah makhluk paling pamrih nomor satu  di jagad raya. Pamrih yang utama adalah soal memperoleh kebahagiaan. Coba pikir, apa sih yang kita lakukan dalam hidup yang tidak diarahkan untuk mencapainya? Puasa minta pamrih pahala. Kerja, belajar, menjadi orang baik, santun, beribadah, beramal saleh dan lain sebagainya berujung pada dambaan  kepadanya. Sebutan saja mungkin yang berbeda. Tapi ujung dari semua alasan mengapa kita memilih melakukan sesuatu adalah dorongan untuk mencapai kebahagiaan. Bahkan  koruptor  memikirkan tentang bahagia saat melakukan tindak kejahatan mereka.

Apa sih bahagia?

Wiki mendefinisikan kebahagiaan  sebagai suatu keadaan mental,  sejahtera, ditandai oleh  intensitas emosi positif, kepuasan dan sukacita . Begitu penting tampaknya bahagia bagi umat manusia sehingga  berbagai kajianpun dilakukan untuk memahaminya. Seperti dari faktor biologis, psikologis, agama, dan filsafat telah berjuang untuk mendefinisikan apa yang disebut kebahagiaan dan bagaimana mengidentifikasi sumbernya.

Pertanyaan?

Saya tak tahu mengapa kita selalu ribut  soal satu ini. Mengapa kita menganggap kebahagiaan diatas segalanya? Mengapa kita sedih dengan absennya bahagia? Apakah dengan mencarinya kita mendapatkan? Apakah dengan berusaha memahaminya  lantas kita mengerti?  Terus mengapa  pula saya ngotot ingin tahu tentangnya?

Tak tahu lah. Mungkin karena saya subscribe ke gerbong angapan sejuta umat bahwa hidup harus bahagia.  Dengan terus mendidik diri sendiri saya pikir sudah mendapat sedikit diantaranya. Namun betulkah saya bahagia? Pertanyaan ini mendorong saya mencari tahu jawabnya. Sebab sebelum mendapatkan kita wajib tahu apa yang dicari. Jadi untuk menyebut sudah  bahagia kita perlu tahu apa yang disebut bahagia itu. Biasanya saya banyak mencari pada pemikiran para sarjana barat. Mumpung bulan puasa dan agar seimbang mengapa tidak berusaha mencari tahu isi pemikiran para sarjana Islam? Maka tertumbuklah saya pada  seorang imam besar bernama  Abu Hamid al-Ghazali (1058-1111 A.D.).

Kebahagiaan Menurut al Gazhali

Dalam buku The Alchemy of Happiness, al Ghazali mendefinisikan bahwa  bahagia itu terletak pada pengetahuan kita terhadap Allah SWT. Itu bisa didapat melalui pengetahuan pada  diri sendiri terlebih dahulu. Pengetahuan tentang diri  inilah yang dianggap sebagai kunci pengetahuan menuju Allah. Ini selaras dengan bunyi Al Quran bahwa: “Dia yang mengetahui dirinya mengetahui Tuhannya”. Begitupun kebahagiaan sejati  terletak pada kebenaran absolute akan kehadiran  Allah seperti  bunyi  ayat ini : “Kami akan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda Kami dalam dunia maupun dalam diri mereka, bahwa kebenaran nyata bagi mereka. ”

Tampaknya yang dimaksud al Gazhali tentang pengetahuan akan diri sendiri ini adalah mengenai naiknya tingkat kesadaran. Tidak ada yang lebih dekat kepadamu selain dirimu, dan jika engkau tidak tahu dirimu sendiri bagaimana engkau tahu tentang yang lain? Benar bukan?  Bagaimana pula engkau tahu tentang kebahagiaan bila pengetahuan tentang diri sendiri tidak ada. Dan boleh jadi engkau  akan berkata  “Tapi aku tahu tentang tubuhku, wajahku, kakiku, rumahku, keluargaku dan seluruh benda-benda milikku”. Namun pengetahuan seperti itu tidak akan membawa kebahagiaan menurut mantan Professor Teology  dari Universitas Bagdad ini. Pengetahuan tersebut berada di luar diri kita dan tidak pernah bisa menjadi kunci pengetahuan  menuju Allah.

Pertanyaan  yang Mencerahkan

Pengetahuan diri sendiri yang akan membawa kita menuju kepada Allah datang  dari jawaban atas pertanyaan-pertanyan ini . “  Siapa engkau dalam dirimu?  Dari mana engkau  datang? Ke mana engkau akan pergi?  Apa tujuanmu  datang sebentar di dunia ini? Apa saja yang  bisa membangkitkan kebahagiaan sejati  dan kesengsaraan dirimu?

Nah sebelum mampu menjawab semua pertanyaan tersebut, kita sesungguhnya tidak  tahu dimana kebahagiaan sejati itu sesungguhnya terletak. Pekerjaan hewan hanyalah makan, tidur dan berkelahi. Jika engkau hewan, sibuk dirimu sendiri dalam hal ini. Setan selalu sibuk mengobarkan kejahatan, tipu daya dan kebohongan. Jika termasuk dalam kelompok mereka, kerjakan pekerjaan mereka. Malaikat merenungkan keindahan Allah, dan sama sekali bebas dari kualitas-kualitas hewan, jika engkau ingin masuk ke alam malaikat, maka berjuanglah untuk mencapainya.

Terakhir

Jadi, begitulah al Gazhali melihat kebahagiaan. Pertanyaannya simple saya kira. Tapi jawabnya? Saya pikir jawaban dari pertanyaan ini adalah pencarian seumur hidup. Bahwa kebahagiaan sejati itu datang ketika kita sudah mengetahui dan merenungkan zat yang Maha Tinggi dan terbebas dari  segala perbudakan nafsu dan amarah. Jadi tercenung. Apakah saya sudah bahagia? Haiyaaaaa….

Bagaimana dengan Anda?

Bookmark the permalink.

4 Comments

  1. saya suka pertanyaan “Siapa engkau dalam dirimu? Dari mana engkau datang? Ke mana engkau akan pergi? Apa tujuanmu datang sebentar di dunia ini? Apa saja yang bisa membangkitkan kebahagiaan sejati dan kesengsaraan dirimu?” karena benar-benar merefleksikan saya. saya rasa saya belum mengenal diri sendiri jadi sering mengalami kesulitan untuk memahami orang lain 🙁

    • Menurut saya, pertanyaan-pertanyaan seperti ini membutuhkan waktu panjang sebelum terjawab tuntas. Ini adalah alasan mengapa kita terus bertanya dan mencari jawaban dalam menempuh perjalanan hidup. Tapi saya percaya jika kita terus mencari jawabnya, pada akhirnya kita akan menemukan. Ini termasuk mengerti diri sendiri lalu mengerti orang lain, Mbak 🙂

  2. Apakah saya bahagia? Bisa ya bisa tidak, Ketika saya tertawa, mungkin itu ekspresi kebahagiaan; demikian pula sebaliknya. Tapi, itu belum tentu juga… Ah, Wallahualam…

    🙂 Salam,,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

    • Bahagia itu tampaknya bukan sebuah kemerdekaan. Bahagia itu perdefinisi. Kita harus menentukan definisinya terlebih duly baru bisa menentukan apakah bahagia atau tidak. Begitu Mas Mohammad 🙂

Leave a Reply