Agar Lebaran Tidak Stress

Belanja Lebaran. Foto : Antara

Lebaran segera tiba. Ibu kami walau kesehatannya tidak lagi sempurna sudah tiba lagi di Jakarta. Bisa berkumpul kembali dengan anak cucu untuk merayakan hari kemenangan terlihat pada wajahnya yang sembringah. Senang melihat dia tertawa lepas tadi. Namun kegembiraan ini tidak menghalangi munculnya beberapa kenangan pahit saat kami kanak-kanak dulu. Waktu itu walau puasa baru seminggu dia sudah tujuh keliling memikirkan berbagai kebutuhan lebaran bagi kami anak-anaknya. Belum lagi stress menghadapi berbagai kenaikan harga selama bulan puasa. Kami semua tahu betapa wanita ini amat menyayangi anak-anaknya. Gara-gara ini dan faktor ekonomi membuat dia lebih banyak menangis di bulan suci ketimbang bulan-bulan lain.

Alhamdulillah masa-masa sulit seperti itu telah berlalu bagi Ibu. Untuk saya sendiri, Insya Allah tidak mengalaminya. Namun di luar sana, saat ini saya  yakin banyak sekali kaum wanita yang senasib dengan Ibu. Sebelum mereka menangis atau mendesak-desak suami putar otak agar mencari uang lebih banyak ( yang bisa berakhir pada tindak kejahatan), saya berharap mereka merenungkan makna dari kedatangan Idul Fitri terlebih dahulu. Lebaran bukanlah soal baju baru, makanan enak, motor baru, rumah yang direnovasi, mudik seperti orang-orang atau jumlah uang yang harus di keluarkan untuk membiayai semua kegiatannya.

Tanggal 1 Syawal sudah dirayakan berulang-ulang sejak ratusan tahun lalu. Sudah saatnya  Idul Fitri dimaknai sebagai  seharusnya yaitu ‘Kepulangan kita kepada fitrah asalnya yang suci‘. Sebulan penuh berpuasa sudah tiba kita menganggap diri seperti terlahir  kembali. Metafor kelahiran kembali ini berarti seorang muslim selama melewati Ramadhan dengan puasa, qiyam, dan segala ragam ibadah seharusnya mampu kembali berislam, tanpa benci, iri, dengki, serta bersih dari segala kemaksiatan. Hari itu mestinya ditandai sebagai hari suka cita dan kalau perlu mengeratkan kembali berbagai hubungan yang regang bersama kerabat dan keluarga. Bulan ini seharusnya kita fokus menciptakan kualitas diri sebagai seorang muslim.

Berhondoh-hondoh pulang kampung, menyajikan hidangan enak dan baju-baju baru tentu saja tidak dilarang. Hanya saja jalankan sesuai kemampuan. Jangan berhutang apa lagi berkelahi dengan suami dan memaksanya mencari jalan pintas untuk mendapatkannya. Sebab jika itu terjadi sebenarnya kita tidak merayakan hari kemenangan melainkan hari kekalahan. Kalah memerangi hawa nafsu yang padahal sangat didengung-dengungkan selama ramadhan.

Pendapat Anda?

Bookmark the permalink.

Leave a Reply