Cafe de’ Rosse Bandar Lampung

Dari luar Cafe De’ Rosse Bandar Lampung terlihat biasa saja. Malah kesan pertama seperti warung seafood karena ada tulisan Tuan Crab yang menguatkan.  Baru saat melangkah ke dalam terasa bahwa ini bukan sekedar resto seafood melainkan juga sebuah Cafe berinterior klasik moderen.  Situasi lebih mencerahkan karena kami disambut Ale penggiat kuliner Lampung dengan akun Instagram ribuan followe di @kuliner_lampung. Ya di siang yang cukup terik  kami dibawa Ale menjelajah rasa dalam Cafe de Rosse. Tak hanya makanan utama seperti seafood tapi juga cemilan roti dan aneka minuman yang menggoda. Interior Klasik Moderen Ngomong-ngomong bagian dalam Cafe De’ Rosse Bandar Lampung … Continue reading

Menyimpan Kenangan

Blog salah satu media paling asik untuk menyimpan kenangan. Kelak bisa dibongkar kembali dan bisa membawa kita ke peristiwanya kata demi kata,  kalimat demi kalimat seolah memutar film di dalam kepala. Screen caption tulisan saya untuk majalah inflight magazine Garuda Indonesia Middle  East sebaiknya juga disimpan di sini. Seperti yang saya lakukan terhadap tulisan-tulisan lain yang pernah terbit di media cetak yang juga  tersimpan di Jurnal Evi Indrawanto. Mengarsipkan kenangan dalam bentuk tulisan cara paling simple dalam membekukan waktu. Selain juga menanam harapan semoga semakin rajin menulis.  Kalaupun tidak setidaknya ada arsip yang sewaktu-waktu bisa ditengok kembali.

Tarian Balon Udara Dalam Pesona Pagi

Setelah menempuh perjalanan sekitar 8 jam dari kota Yangon akhirnya kami sampai di Bagan. Masih berbalut kantuk, subuh telah lewat, dengan tertatih-tatih saya turun dari mobil travel yang menjemput dari terminal bus. Kegelapan masih sempurna tapi aroma fajar sudah membahana dan menyesak di hidung. Iya pagi ini saya akan naik ke atas Shwesandaw Pagoda untuk menyaksikan matahari terbit. Mungkin pancaran sinar pertama dari mentari yang muncul dari ufuk timur sama di mana saja. Namun tempat kita menyaksikan membuat biasnya  terasa berbeda. Nah dari pelataran tertinggi Shwesandow yang berdiri di tengah lembah, dikelilingi kabut yang tersangkut di pucuk pucuk pohon, hanya … Continue reading

Hujan dan Cerita Sesudahnya

Sudah tahu kan bagaimana terjadinya hujan? Panas matahari menyebabkan air di permukaan bumi –bahkan dari tubuh kita  — menguap ke udara. Uap ini kemudian berubah jadi partikel embun, memadat (kondensasi) yang kemudian disebut awan. Awan-awan baru terbentuk, volume masih kecil, kemudian diterbangkan angin untuk  berkumpul bersama kawan-kawannya sampai akhirnya tebal (langit mendung). Pada suatu ketika, butiran air ini terlalu berat. Akhirnya mereka rontok,  kembali ke bumi sebagai hujan. Hujan hanyalah fenomena alam akibat hukum semesta dari sebab-akibat. Takkan ada hujan bila tak terdapat sumber air di bumi. Takan ada hujan jika matahari menolak bersinar. Begitu pun hujan takan terjadi jika … Continue reading

Bungkus Di Atas Paran

Dulu nenek sering memandangku dengan ekspresi putus asa. Wajahnya tampak nano-nano. Antara marah, kesal dan luruhan kasih sayang. Perkaranya sepele: Ia menganggap aku tak mengerti maksud baiknya. Bahwa ia memerintahkan ini itu tentu bermuatan pendidikan agar aku kelak jadi perempuan yang bisa mengerjakan tugas-tugas rumah. Tapi aku tak melihat ada kebaikan dari perintah-perintah seperti ini. Mengabaikan adalah opsi terbaik. Begitu pun telingaku tak cukup didesain dengan baik untuk menerima segala petuah, nasihat, atau wejangan mengenai konsep anak-anak yang baik. Jadi apa yang harus kulakukan selain memberi wajah lempang sambil mengangguk-angguk berjanji bahwa aku berusaha semampuku agar tak mengulangi lagi.  Tapi … Continue reading