Tari Rejang Shanti yang Membius

Tari Rejang Shanti

Udara tanpa angin, langit biru pekat bergurat awan putih, Tugu api Taman Mini Indonesia yang berlapis emas berkilat di bawah cahaya matahari sore. Sekumpulan perempuan dari anak-anak sampai usia agak lanjut berbaris,  berjalan ritmis dari sebelah kanan pelataran sambil menari menuju bawah kaki tugu.  Dengan hisasan kepala berbentuk bunga yang terbuat dari daun lontar, kebaya putih, tenun endek warna-warni, selendang putih panjang tersampir di pinggang, mereka seperti sekumpulan bidadari yang baru turun dari langit. Air mancur yang memancar sebagai latar belakang tidak membuat mereka tampak seseorang yang baru saja kehilangan selendang. Perhiasan terindah mereka tersungging di bibir. Sebaik-baiknya perhiasan perempuan … Continue reading

Cafe de’ Rosse Bandar Lampung

Aneka minuman Cafe De Rosse

Dari luar Cafe De’ Rosse Bandar Lampung terlihat biasa saja. Malah kesan pertama seperti warung seafood karena ada tulisan Tuan Crab yang menguatkan.  Baru saat melangkah ke dalam terasa bahwa ini bukan sekedar resto seafood melainkan juga sebuah Cafe berinterior klasik moderen.  Situasi lebih mencerahkan karena kami disambut Ale penggiat kuliner Lampung dengan akun Instagram ribuan followe di @kuliner_lampung. Ya di siang yang cukup terik  kami dibawa Ale menjelajah rasa dalam Cafe de Rosse. Tak hanya makanan utama seperti seafood tapi juga cemilan roti dan aneka minuman yang menggoda. Interior Klasik Moderen Ngomong-ngomong bagian dalam Cafe De’ Rosse Bandar Lampung … Continue reading

Menyimpan Kenangan

Blog salah satu media paling asik untuk menyimpan kenangan. Kelak bisa dibongkar kembali dan bisa membawa kita ke peristiwanya kata demi kata,  kalimat demi kalimat seolah memutar film di dalam kepala. Screen caption tulisan saya untuk majalah inflight magazine Garuda Indonesia Middle  East sebaiknya juga disimpan di sini. Seperti yang saya lakukan terhadap tulisan-tulisan lain yang pernah terbit di media cetak yang juga  tersimpan di Jurnal Evi Indrawanto. Mengarsipkan kenangan dalam bentuk tulisan cara paling simple dalam membekukan waktu. Selain juga menanam harapan semoga semakin rajin menulis.  Kalaupun tidak setidaknya ada arsip yang sewaktu-waktu bisa ditengok kembali.

Tarian Balon Udara Dalam Pesona Pagi

Setelah menempuh perjalanan sekitar 8 jam dari kota Yangon akhirnya kami sampai di Bagan. Masih berbalut kantuk, subuh telah lewat, dengan tertatih-tatih saya turun dari mobil travel yang menjemput dari terminal bus. Kegelapan masih sempurna tapi aroma fajar sudah membahana dan menyesak di hidung. Iya pagi ini saya akan naik ke atas Shwesandaw Pagoda untuk menyaksikan matahari terbit. Mungkin pancaran sinar pertama dari mentari yang muncul dari ufuk timur sama di mana saja. Namun tempat kita menyaksikan membuat biasnya  terasa berbeda. Nah dari pelataran tertinggi Shwesandow yang berdiri di tengah lembah, dikelilingi kabut yang tersangkut di pucuk pucuk pohon, hanya … Continue reading