Hujan dan Cerita Sesudahnya

Sudah tahu kan bagaimana terjadinya hujan? Panas matahari menyebabkan air di permukaan bumi –bahkan dari tubuh kita  — menguap ke udara. Uap ini kemudian berubah jadi partikel embun, memadat (kondensasi) yang kemudian disebut awan. Awan-awan baru terbentuk, volume masih kecil, kemudian diterbangkan angin untuk  berkumpul bersama kawan-kawannya sampai akhirnya tebal (langit mendung). Pada suatu ketika, butiran air ini terlalu berat. Akhirnya mereka rontok,  kembali ke bumi sebagai hujan. Hujan hanyalah fenomena alam akibat hukum semesta dari sebab-akibat. Takkan ada hujan bila tak terdapat sumber air di bumi. Takan ada hujan jika matahari menolak bersinar. Begitu pun hujan takan terjadi jika … Continue reading

Bungkus Di Atas Paran

Dulu nenek sering memandangku dengan ekspresi putus asa. Wajahnya tampak nano-nano. Antara marah, kesal dan luruhan kasih sayang. Perkaranya sepele: Ia menganggap aku tak mengerti maksud baiknya. Bahwa ia memerintahkan ini itu tentu bermuatan pendidikan agar aku kelak jadi perempuan yang bisa mengerjakan tugas-tugas rumah. Tapi aku tak melihat ada kebaikan dari perintah-perintah seperti ini. Mengabaikan adalah opsi terbaik. Begitu pun telingaku tak cukup didesain dengan baik untuk menerima segala petuah, nasihat, atau wejangan mengenai konsep anak-anak yang baik. Jadi apa yang harus kulakukan selain memberi wajah lempang sambil mengangguk-angguk berjanji bahwa aku berusaha semampuku agar tak mengulangi lagi.  Tapi … Continue reading

Aku Kembali Ke Tempat Ini Untuk Menangis

“Apanya yang indah?” Tanyamu sesaat aku mendesis mengagumi bulatan besar dari bunga matahari yang sudah menghadap ke barat mengikuti sinar panutannya. Aku berpaling memandang semburat jingga di kaki langit. Aku ingin bertanya balik, tentu dengan nada yang ditajam-tajamkan: “Jika kamu bisa mendeskripkan satu kata saja mengapa bunga ini tidak indah, mungkin aku bisa menjelaskan!” Tapi saat memandang ke dalam matamu yang dibingkai kaca mata dengan indah itu, pipiku malah terasa hangat, dan jantung ini mulai berdetak-detak. Sungguh tak sopan, ia bertalu-talu tanpa bisa dikendalikan. Aneh mengapa pandangan geli dari matamu mampu menggelegakan seluruh darah di pembuluh dan syaraf-syarafku? Kembali berpaling … Continue reading

Ke Bukitinggi pada Kamis Pagi

Tersebutlah  beberapa orang Pahlawan Nasional dari Minangkabau. Diantaranya  Buya Hamka, Sutan Syahrir, Tan Malaka dan Mohammad Hatta. Mereka semua jadi kebanggan orang di kampung saya. Nama yang selalu disebut  saat membanggakan peran penting mereka di masa lalu. Namun sependek pengetahuan saya, monumen yang banyak didirikan dalam mengenang jasa-jasa pahlawan tersebut hanya Bung Hatta. Di Bukittinggi setidaknya ada tiga monumen bagi Si Bung Kecil. Pertama Istana Bung Hatta, replika bekas tempat tinggal yang sekarang di jadikan museum. Satu lagi sebuah gedung arsip yang terletak di belakang Jam Gadang. Masih di belakang Jam Gadang bersisian dengan gedung arsip, terhampar  Taman Monumen Mohammad … Continue reading

Pagi Berhalimun

Pagi di rumah ibu di awali udara dingin yang menusuk dan suara adzan yang bergema dari segala pelosok. Saya membuka mata, menarik selimut, tetap berbaring, diam-diam mendengarkan awal aktivitas manusia. Tak lama suara motor berdengung, melintas perlahan seolah enggan menembus dingin. Lalu cicit burung pipit yang entah bersarang di mana. Usai menunaikan kewajiban saya bergerak ke pintu. Derit karat engsel membawa pandang ke pagi yang masih pekat. Embun mengambang dimana-mana. Dari lereng bukit turun ke sawah-sawah dan jalanan. Jarak pandang hanya beberapa meter ke muka. Dan pagi tadi aku berpesta dalam embun : Selesai memotret saya cepat-cepat masuk ke rumah … Continue reading